
Vincent Willem van Gogh adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa.
Pada masa mudanya Van Gogh bekerja pada sebuah perusahaan penjual karya seni, dan setelah beberapa waktu bekerja sebagai guru, ia melayani sebagai misionaris yang bekerja di wilayah pertambangan yang sangat miskin. Ia baru menjadi seniman pada tahun 1880. Mulanya karya-karyanya menggunakan warna-warna yang suram. Baru ketika di Paris ia berjumpa dengan impresionisme dan neo-impresionisme yang warna-warnanya yang lebih cerah dan gaya lukisannya dikembangkannya menjadi sebuah gaya yang unik dan mudah dikenali. Gaya lukisannya ini mencapai tingkat perkembangannya yang penuh ketika ia tinggal di Arles, Perancis.
Awalnya mengikuti tipikal pelukis di zamannya dengan gaya impresionisme. Namun ketidakpuasan terhadap pengekangan ekspresi seni oleh pakem impresionisme membuat ia beralih pada gaya ekspresionisme.
Vincent Van gogh didiagnosa menderita epilepsi yang cukup parah. Diagnosa ini dibuat oleh 2 orang dokter berbeda yang merawatnya. Van Gogh juga pernah memotong telinganya sendiri.
Pada akhir hidupnya, ia merasa dirinya menjadi gila dan akhirnya menghabiskan sisa hidup di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole di Saint-Rémy-de-Provence, Perancis. Di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole, dia tetap melukis

Affandi adalah salah satu putera dari pasangan Koesoema dan ibu Ladjem sebagai isteri kedua, lahir di Contoh karya:

DJOKO Pekik mendapat julukan pelukis satu miliar. Itu karena lukisannya, Indonesia 1998 Berburu Celeng , terjual seharga Rp 1 miliar dalam satu pameran di Yogyakarta, 1999. Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan trilogi. Di antara 300 lukisan karya perupa kerempeng itu, trilogi ini paling berkesan baginya.Lalu makmurkah sang pelukis beraliran realis-ekspresionis? Sebelum trilogi Celeng, Djoko sudah terbilang kaya, ketimbang tahun-tahun sebelumnya -- yang penuh penderitaan, baik dalam masa tahanan maupun selepas dari penjara Orde Baru. Kini ia menempati rumah yang “menyatu” dengan alam, dengan tiga bangunan bertingkat yang besar, lengkap dengan ruang gamelan pribadi dan umum, ruang keluarga, galeri, dan studio.
Dengan demikian, cita-citanya waktu kecil -- ingin jadi lurah kaya dan punya gamelan -- sudah setengah terkabul. Walau tak jadi lurah, ia sudah dapat membeli dua perangkat gamelan. Namun penampilannya sendiri sederhana, senang menggunakan kaus putih dan celana komprang, dan buntut rambut yang dikepang rapi.
Djoko Pekik—yang artinya pemuda tampan—sebenarnya tak mewarisi darah seni dari orangtuanya. Senang melukis sejak kecil, ia sendiri menyebut dirinya berbakat kesasar. Ayah dan ibunya petani, yang buta huruf dan tinggal di tengah hutan jati di daerah Purwodadi, Jawa Tengah.
Djoko kecil juga senang bermain sandiwara. Ketika memerankan tokoh Kelenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut, ia menggambar sendiri pakaian tokoh yang dimainkannya. Tak lulus SD dan pendidikan menengah, bungsu dari 12 bersaudara ini—sembilan saudaranya buta huruf—melanjutkan sekolah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962. “Kematangan saya dalam seni lukis bukan di ASRI tapi di Sanggar Bumi Tarung. Karena di ASRI saya anggap hanya belajar teknik melukis,” ujarnya.
contoh karya :
" Basoeki Abdullah"

lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 – dan meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia menjadi pelukis Istana Merdeka Jakarta Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia. Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubro yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.
Pendidikan formal di Solo. Ia memperoleh beasiswa di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA). contoh karya :
"Antonio Blanco"

contoh karya

Karena tinggal di istana Belanda dan melukis Ratu Belanda, Beliau dituduh sebagai pengkhianat bangsa. Tetapi tuduhan itu tak bera lasan karena ada satu lukisannya yang membuktikan bahwa rasa nasionalismenya tinggi. Lukisan tersebut yaitu lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di Rumah Kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De Cock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan. Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa


